Tanggung Jawab Moral Penggunaan IPTEK

Enjoy this article about the IPTEK and moral responsibility for its use. Hopefully useful for readers, good reading 🙂

1.       Teknik Sebagai Perpanjangan Tubuh Manusia

Teknik sebenarnya sesuatu yang diciptakan untuk membantu manusia. Fungsinya terutama bersifat instrumental, yakni menyediakan alat-alat bagi manusia. Kurang lebih sebagai perpanjangan fungsi-fungsi tubuh manusia, seperti: kaki (alat-alat transportasi) tangan (mesin-mesin, lat-alat besar), mata (film, televisi), telinga (radio, telepon), sampai dengan otak (computer). Teknik dalam konteks ini telah (1) membawa berbagai kemudahan bagi manusia dan (2) memajukan peradaban manusia. Tapi, dalam perkembangnya kemudian, khususnya pada tahap penggunaannya, apa yang dari semula dirancang sebagai sarana yang memungkinkan manusia untuk memperluas penguasaannya terhadap dunia, ternyata menjadi sukar dikuasainya sendiri, atau bahkan tidak bisa dikuasainya.

 

2.       Teknologi dan Pemenuhan Kebutuhan Manusia

 2.1.         Tiga jenis kebutuhan dasar manusia

Ada tiga kebutuhan dasar manusia yakni kebutuhan material, sosial dan spiritual. Terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan inilah yang membuat manusia dapat menjalankan kehidupannya dengan lebih bermakna dan membahagiakan.

2.2.         Pemenuhan kebutuhan yang tidak seimbang

–  Kenyataan membuktikan bahwa kemajuan di bidang iptek hanya membawa pengaruh dominan pada pemenuhan kebutuhan manusia yang bersifat material

– Dari segi materi, manusia mengalami kemajuan yang luar biasa, tapi tidak demikian dengan kehidupan sosial dan spiritual.

2.3.         Dapat berfungsi sosial dan spiritual

Kekayaan materi hendaknya membuka kesadaran kita betapa besar kasih Tuhan kepada kita, dan sekaligus menyadari betapa dengan cara itu Tuhan mau memakai kita sebagai saluran berkatNya bagi sesama

 

3.       Peluang Penyalagunaan Iptek

 3.1.         Penyalagunaan komputer.

Penyalagunaan koputer tidak hanya menunjuk pada perusakan komputer, tapi menyangkut segala tindakan tidak etis dan ilegal atau bertentangan dengan hukum.

3.2.         Malpraktek dibidang kedokteran

3.3.         Eksploitasi terhadap dunia ketiga.

Kemajuan teknologi yang semakin pesat, telah memaksa orang-orang kaya, memenuhi kebutuhan mereka dengan mengklaim hak-hak istimewa yang sebenarnya sudah tidak pada tempatnya. Adanya rencana-rencana gila berselimutkan appropriate technology,dimana tanah garapan produktif negara-negara miskin dikelola oleh transnational corporations dan elite setempat, untuk pemuasan sekelompok orang kaya dunia. Juga terjadi pengikisan orang-orang miskin melalui pemekaran bentuk-bentuk teknologi yang  padat modal. Penggunaan robot dalam dunia industri-industri, telah menambah tingginya angka pengangguran. Terjadi juga penjualan paksa produk yang dimungkinkan oleh teknologi modern, dengan iklan yang dahsyat.

3.4.         Ancaman iptek terhadap budaya

–        Teknologi telah banyak berkembang termasuk dalam hal teknologi informasi, sehingga negara-negara maju mampu menyampaikan pesan-pesan apa saja ke negara berkembang

–        Pesan-pesan itu cenderung menimbulkan berbagai hal yang sering tidak menguntungkan bagi dunia berkembang itu

–        Pengaruh dari pesan-pesan tadi bisa lebih buruk lagi dimana kreativitas kultural asli dari negara-negara berkembang tertindih dan terkikis habis

–        Dengan demikian negara-negara berkembang atau negara kurang berkembang  menghadapi resiko bahwa statusnya secara berangsur-angsur akan surut sampai menjadi konsumen belaka dari produk pabrik maupun produk kebudayaan dari peradaban-peradaban lain

 

4.       Pilihan teknologi tepat guna

4.1. Teknologi adaptif

Penentuan teknologi harus mempertimbangkan kondisi masyarakat. Teknologi harus dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah-masalah konkrit. Oleh karena itu yang menjadi ukuran-ukuran utama untuk proses adaptasi  dalam pengembangan teknologi ialah :

1) Agar lebih cocok dengan pertimbangan: penyerapan tenaga kerja (labour-absorptive)

2) Penggunaan bahan dalam negeri (local materials contents)

3) Dan neraca pembayaran luar negeri (penambahan devisa dan atau penghematan devisa

4.2.  Teknologi protektif

–        Hal lain yang penting diperhatikan dalam hal pengembangan teknologi adalah pertimbangan mengenai dampak penggunaannya terhadap lingkungan hidup.

–        Tekonologi yang bersifat protektif bertujuan untuk memelihara, melindungi dan mengamankan lingkungan hidup bagi masa depan

–        Hal-hal yang menjadi patokan disini adalah berkisar pada konservasi, restorasi dan regenerasi sumber daya alam yang terkandung dalam wilayah tanah air kita

–        Teknologi dapat disebut bersifat protektif apabila dapat meningkatkan kelestarian, memulihkan kesuburan tanah yang sudah tandus, memanfaatkan lagi tanah alang-alang sebagai tanah garapan, dan sebagainya.

4.3. Mengikuti perkembangan iptek

Kita tidak akan pernah dapat menghambat kemajuan iptek, namun yang dapat kita lakukan adalah kita tetap harus menjadi subyek dari iptek itu sendiri. Manusia tidak pernah dapat menjadi obyek dari iptek. Oleh karena kita harus selalu mengikuti perkembangan iptek, mengendalikannya dan memanfaatkannya untuk kemajuan peradaban kita.

 

Manusia dan Lingkungan Hidup

hello it’s time to re-write anymore 🙂 Writing this time is about human beings and the environment which includes the theory of environmental ethics, the Earth as a whole ecosystem, and the People who can give positive and negative effects to it. Hope can increase the knowledge of readers and bring us all how important our environment. Enjooy 🙂

1.    Teori Etika Lingkungan Hidup

1.1. Antroposentrisme

Antroposenstrisme (antropos=manusia) adalah suatu pandangan yang menempatkan manusia sebagai pusat dari alam semesta. Dalam konteks lingkungan hidup, tesis dasar dari antropsenterisme adalah pemanfaatan terhadap lingkungan hidup harus tunduk pada kepentingan manusia. Lingkungan dalam konteks ini hanya memiliki nilai instrumental, sebagai obyek eksploitasi, eksperimen untuk kepentingan manusia. Manusia dalam konteks ini merupakan satu-satunya subyek moral.

Beberapa Tinjauan Kritis terhadap:

–          Didasarkan pada pandangan filsafat yang mengatakan bahwa hal yang bernuansa moral hanya berlaku bagi manusia

–        Sangat bersifat instrumentalistis yaitu pola hubungan manusia dan alam hanya terbatas pada relasi instrumental semata

–        Sangat bersifat teleologis, karena pertimbangan yang diambil untuk peduli terhadap alam didasarkan pada akibat dari tindakan itu bagi kepentingan manusia

–        Teori ini telah dituduh sebagai salah satu penyebab bagi terjadinya krisis lingkungan hidup

–        Walau banyak kritik dilontarkan kepada teori antroposentrisme, namun sebenarnya argumen di dalamnya cukup sebagai landasan yang kuat bagi pengembangan sikap kepedulian terhadap alam.

1.2. Biosentrisme

Biosentrisme merupakan kebalikan dari antroposentrisme. Biosentrisme merupakan suatu pandangan yang menempatkan alam sebagai yang mempunyai nilai dalam dirinya sendiri, bukan tergantung pada manusia. Oleh karena itu, bukan hanya manusia yang memiliki hak untuk berada, tetapi juga alam. Manusia dalam konteks biosentrisme hanya merupakan salah satu bagian dari alam. Seperti manusia memiliki nilai pada dirinya sendiri, demikianpun bagian-bagian itu memiliki nilai di dalam dirinya sendiri. Dalam konteks ini, biosentrisme merupakan sebuah komunitas moral, dimana semua bagian dari komunitas itu memiliki nilai moral.

Beberapa Tinjauan Kritis :

–        Menekankan kewajiban terhadap alam bersumber dari pertimbangan bahwa kehidupan adalah sesuatu yang bernilai, baik kehidupan manusia maupun spesis lain di bumi ini

–        Melihat alam dan seluruh isinya mempunyai harkat dan nilai dalam dirinya sendiri

–        Memandang manusia sebagai makhluk biologis yang sama dengan makhluk biologis lainnya

–        Pada intinya teori biosentrisme berpusat pada komunitas biotis dan seluruh kehidupan yang ada di dalamnya.

–        Teori ini memberi bobot dan pertimbangan moral yang sama kepada semua makhluk hidup.

1.3. Ekosentrisme

Ekosentrisme merupakan perluasan dari bisentrisme. Biosentrisme menekankan komunitas bilogis yang hidup, sedangkan ekosentrisme memberikan perhatian pada komunitas biologis yang hidup dan mati. Ekosentrisme dalam konteks ini merupakan suatu paham yang mengajarkan bahwa baik komunitas biologis yang hidup maupun yang mati saling berkaitan satu sama lain. Air, udara, cahaya, tanah dan lain sebagainya sangat menentukan kualitas komunitas biologis.

Beberapa Tinjauan Kritis:

–        Versi lain dari ekosentrisme adalah Deep Ecology yang diperkenalkan oleh Arne Naes (filsuf norwegia).

–        Deep Ecology  disebut sebagai ecosophy, yang berarti kerifan mengatur hidup selaras dengan alam sebagai sebuah rumah tangga dalam arti luas. Deep Ecology menganut prinsip biospheric egalitarianism, yaitu pengakuan bahwa semua organisma dan makhluk hidup adalah anggota yang sama statusnya dari suatu keseluruhan yang terkait sehingga mempunyai martabat yang sama. Dia tidak hanya memusatkan perhatian pada dampak pencemaran bagi kesehatan mausia, tetapi juga pada kehidupan secara keseluruhan .Deep ecology mengatasi sebab utama yang paling dalam  dari pencemaran, dan bukan sekedar dampak superfisial dan jangka pendek

2.       Bumi Sebagai Kesatuan Ekosistem

 2.1. Ekosistem Bumi

Bumi terdiri dari berbagai lapisan atau bagian yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Terganggunya salah satu bagian dari ekosistem  akan menyebabkan terganggungua kesatuan yang lainnya. Keseluruhan lapisan itu disebut biosfer. Biosfer berasal dari dua kata Yunani yakni bios yang berarti hidup dan sphere yang berari bola.  Sedangkan ekosistem berasal dari kata Yunani oikos=rumah dan systema=keseluruhan. Biosfer terdiri dari ekosistem yang tidak terhitung jumlahnya.

2.2. Manusia hanya sebagai salah satu lapisan

Manusia dalam kesatuan ekosistem ini tidak memiliki independensi mutlak. Kualitas hidupnya tergantung pada kualitas ekosistem yang lainnya.

2.3. Peran Manusia yang semakin besar

Tidak bisa disangkal bahwa walaupun manusia hanya merupakan salah satu bagian dari keseluruhan ekosistem, manusia merupakan satu-satunya mahluk yang paling dinamis. Manusia memiliki otak yang lebih besar, kehendak bebas, dan memiliki perasaan. Kualitas-kualitas itu membuat manusia lebih adaptable dibandingkan dengan mahluk yang lainnya, terutama dengan mahluk primata non manusia. Manusia dengan demikian tidak hanya dideterminir oleh lingkungannya, tetapi juga dapat merekayasa lingkungannya sesuai dengan kehendaknya. Sehingga manusia memiliki pengaruh yang begitu besar terhadap ekosistem baik secara positif maupun negatif.

Penebangan Hutan sebagai Pengaruh Negatif  Manusia terhadap Ekosistem

 

3.       Kesatuan Manusia dengan Lingkungan Hidupnya

3.1. Pengaruh seleksi alam

Manusia, seperti adanya, yaitu fenotipenya, terbentuk oleh interaksi antara genotipe dan lingkungan hidupnya.

3.2. Gambaran Kedudukan Manusia dalam alam lingkungannya

–   Dari struktur prilaku manusia.

Dari segi struktur perilaku manusia yang paling dinamis dan adaptabel dengan lingkungannya. Hal ini disebabkan manusia memiliki kualitas akal budi dan memiliki kehendak yang bebas

–   Dari segi kedudukan dalam keseluruhan ekosistem

Dalam keseluruhan ekosistem, manusia hanya merupakan salah satu bagian dari bagian yang lainnya. Bagian-bagian ini saling menentukan. Alam dapat menentukan kualitas hidup manusia dan manusia dapat menentukan alam.

4.       Mengembangkan Paham yang Tepat tentang Lingkungan

Baik antroposentrisme, biosentrisme maupun ekosentrisme sama-sama memiliki perhatian yang sama tentang kehidupan. Antroposentrisme menekankan kehidupan manusia dan mengabaikannya, biosentrisme menekankan kehidupan mahluk biotik dan ekosentrisme menekankan saling ketergantungan antara berbagai elemen dari ekosistem baik manusia, lingkungan biotik maupun abiotik. Ketiga-tiganya baik manusia, lingkungan biotik maupun abiotik saling menentukan. Manusia tidak akan dapat berkembang sebagai manusia tanpa didukung oleh lingkungan baik lingkungan biotik maupun abiotik yang baik. Inilah prinsip dasari dari apa yang disebut dengan deep ecology.  Deep ecology bukan hanya sekedar paham filosofis mengenai relasi yang seharusnya antara berbagai elemen dalam ekosistem, melainkan merupakan suatu gerakan baru, kesadaran baru, paradigma baru yang harus menjadi kultur kita dalam setiap prilaku dan pengambilan kebijakan baik kebijakan politis, ekonomis maupun akademik.

Menerima Diri Sendiri



Hari ini saya mau berbagi kisah dengan teman-teman semua, kisah tentang pentingnya kita menerima keadaan diri kita sendiri ini berjudul ” Kisah Seorang Pemecah Batu”, semoga kisah ini dapat bermanfaat dan dapat menjadi bahan renungan untuk kita semua. Enjoy it!! 🙂

Kisah Pemecahan Batu

Seorang pemecah batu karang mengeluhkan keberadaan dirinya.

“An, Tuhan tidak adil. Setiap bekerja aku pasti kepanasan. Betapa enaknya menjadi matahari. Ia tidak perlu bersusah-paya seperti aku. Jika Tuhan adil, aku ingin mejadi matahari.”

Tuhan mengabulkan permintaan pemecah batu. Dalam waktu sekejap ia berubah menjadi matahari. Betapa bangganya ia. Dengan sekuat tenaga, ia menyinarkan cahayanya keseluruh bumi hingga manusia menjadi kegerahan. Tetapi, tiba-tiba awan hitam menutup sinarnya. Cahaya yang kuat tak mampu menembusnya.

Ah, Tuhan tidak adil. Ternyata ada yang lebih kuat daripada aku. Jika Tuhan adil, aku ingin menjadi awan hitam.”

Tuhan mengabulkan permintaan matahari. Dalam sekejap, ia berubah menjadi awan hitam. Dengan congkaknya, sang awan berkeliling dunia dan menggelapkan isinya. Di tengah rasa bangganya, tiba-tiba bertiuplah angina dengan, sangat kencang hingga awan hitam itu bercerai-berai. Sang awan menjadi marah.

“Tuhan, engkau sungguh tidak adil. Ternyata angin dapat mengalahkanku. Kalau begitu, jadikan aku sebagai angin.”

Dalam sekejap awan berubah menjadi angin. Dengan kekuatannya ia bertiup kencang sehingga banyak rumah dan pohon yang roboh. Ia merasa menjadi yang paling hebat hingga akhirnya ia menghantam batu karang. Tetapi, batu karang itu tetap tegak berdiri tidak goyah. Berkali-kali ia menghantam batu karang. Tetapi, jangankan hancur, beranjak sedikit pun tidak. Angina menjadi jengkel.

“Tuhan jadikan aku batu karang agar aku dapat menahan angin.”. Tuhan sekali lagi mengabulkan permintaannya. Batu karang itu yakin bahwa tidak ada yang dapat mengalahkannya. Sampai suatu hari, ada seorang laki-laki tua dengan bertelanjang dada membawa alat pemecah batu. Sedikit demi sedikit, laki-laki itu memecahkan batu karang hingga menjadi batu-batu kecil. Batu karang menjadi sadar bahwa ia harus kembali menjadi pemecah batu karang. Tuhan memberikan pelajaran kepada orang yang tidak pernah puas dan senang membandingkan dirinya dengan orang lain.

– Pendapat Saya terhadap Cerita Tersebut

Setelah membaca kisah yang berjudul kisah pemecah batu tersebut saya langsung berfikir tentang sebuah quotes atau kata bijak yang cukup popular yang berbunyi “Jadilah diri sendiri!”, yang jika saya dengar sekilas, seakan kata-kata tersebut adalah kata-kata yang tidak memiliki makna. Namun setelah saya membaca cerita ini, hal tersebut menimbulkan inspirasi baru dalam pemikiran saya, Menjadi diri sendiri dapat membuat kita memiliki fondasi kepribadian yang kuat. Memang, untuk menjadi diri sendiri tidaklah mudah dan adanya kecenderungan tidak puas dengan yang sudah kita miliki dan selalu melihat kelebihan orang lain. Hal ini sama dengan yang dialami dalam kisah pemecah batu, ia tidak pernah puas akan keadaan yang ada pada dirinya, ia selalu melihat kelebihan yang dipunya oleh orang lain dan menginginkannya tanpa menyadari bahwa pasti ada sisi buruk yang menjadi kekurangan dari kelebihan yang ia lihat. Semua sisi kebaikan pasti diikuti dengan sisi kekurangan. Untuk itu, menjadi diri sendiri bukanlah sekedar menerima apa adanya diri saya sekarang sebagai penonjolan diri atau mementingkan diri saya sendiri. Menjadi diri sendiri akan membuat diri kita semakin besar rasa hormat kepada orang lain, semakin kita mengerti diri sendiri maka Anda akan lebih mengerti sikap dan pengertian terhadap hak-hak orang lain. Menjadi diri sendiri berarti kita telah berhenti berpura-pura menjadi orang lain, Kita tidak lagi takut untuk tidak memenuhi harapan orang lain. Ini bukan berarti bahwa kita tidak mempedulikan pikiran-pikiran orang lain. Tentu saja kita peduli, hanya saja kitalah yang mengarahkan kehidupan kita sendiri dan kitalah sendiri yang mengatasi rasa ketakutan itu dari pilihan-pilihan yang ada. Ketulusan adalah hal utama, kita dapat menerima sisi baik dan buruk dari diri kita sendiri dan justru menjadikan sisi buruk tersebut menjadi keunggulan yang ada dalam hidup kita.

Berdasarkan kisah tersebut, saya menyikapinya dengan menyadari bahwa semua orang memiliki pribadi yang berbeda termasuk saya, baik secara fisik maupun psikis (kejiwaan). Setiap orang memiliki ciri khas dan karakter masing-masing. Hal ini menyiratkan bahwa di satu sisi kita memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain tetapi di sisi lain kita juga mempunyai kekurangan dibanding orang lain. Kesadaran seperti ini akan membantu kita merasa aman dan nyaman dalam menerima kondisi kita yang sesungguhnya. Selain itu saya juga harusmengenali diri saya sendiri, Secara fisik kita tentu telah mengenali diri kita dengan baik. Tetapi hal-hal fisik tidak cukup untuk mengenali diri sendiri. kita dituntut untuk mengenali hal-hal yang bersifat non-fisik seperti bagaimana sifat, watak, kebiasaan, dan kepribadian kita. Dari hal-hal seperti inilah kualitas diri kita akan terbentuk. Yang terakhir adalah jangan menyesali kekurangan yang ada pada diri kita, dengan tidak membandingkan kekurangan kita dengan kelebihan orang lain dan melakukan evaluasi diri sendiri untuk mencapai apa yang kita inginkan. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan identifikasi terhadap berbagai hambatan maupun hal yang memperlancar kesuksesan kita.

Bagaimana dengan pendapat teman-teman semua?? Jangan lupa tinggalkan Comment.

Regards.

Jihan 🙂